UT Korea News

Mengabarkan Peristiwa yang terjadi di Korea Selatan

MASJID AL-AMIN DAEGU

Gambar

Busan, 2013/03/17

utkorea.wordpress.com

Reporter : Bambang Zulparisi

Dimulai dengan kompleksitas warga Indonesia yang berada di bumi ginseng lebih tepatnya di Seongso Gongdan, dengan adanya berbagai kelompok paguyuban, suku, kesenian yang mengarah pada Primodialisme (ikatan seseorang pada kelompok ia kenal sejak lahir dengan segala nilai yang diperolehnya melalui sosialisasi yang berperan dalam memebentuk sikap pribadi).

Memang di satu sisi, sikap primodial ini berguna, dalam arti memiliki fungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Namun di sisi lain sikap ini dapat membuat individu atau kelompok, paguyuban, suku dan lainya tersebut memiliki sikap etnosentrisme yaitu suatu sikap yang cendrung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain, dengan memandang budaya orang lain dari segi kacamata budayanya. Kurangnya menghargai nilai-nilai budaya kelompok lain (merasa budaya dan kelompoknya paling unggul). Ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil dimana ia dilahirkan/sudah menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan bagi dirinya. Meski sebenarnya terdapat dua jenis etnosentris yaitu :

1. etnosentris infleksibel yakni suatu sikap yang cenderung  bersifat subjektif dalam memandang budaya dan tingkah laku orang lain,

2. Etnosentris fleksibel yakni suatu sikap yang cenderung menilai tingkah laku orang lain tidak hanya berdasarkan sudut pandang budaya sendiri tetapi juga dari sudut pandang budaya lain.

Dengan tidak menutupi fakta sejarah ketika itu, Bumi Seongso Gongdan pada masa awal tahun 2000an menjadi ajang yang sangat deras dengan berbagai perseteruan antar etnis dikalangan bangsa Indonesia.

Mengingat fakta kondisi sejarah seperti tersebut di atas, yang memang harus dengan jiwa besar mengakui terjadi masa tersebut, ada pemikiran dari putra-putra Indonesia yang berada di Seongso Gongdan untuk mempersatukan segenap warga Indonesia, yang juga secara mayoritas pemeluk agama, dalam hal ini Islam. Meski Bangsa Indonesia harus tetap terus belajar mengenal selengkap-lengkapnya dan seutuh-utuhnya ajaran agamanya baik syariah dan aqidah.

Pemikiran putra-putri indonesia tersebut adalah perlunya wadah mempersatukan masyarakat indonesia di Daegu, yang benar-benar lintas budaya, etnis, kelompok. Dalam hal ini ide tersebut berupa didirikannya tempat ibadah/musholla (kini masjid). Dengan segenap perjuangan panjang dan argumentasi yang intens terhadap orang Korea yang dinilai mampu dan bersedia membantu berdirinya musholla sebagai tempat berkumpulnya lintas budaya dan etnis Bangsa Indonesia di Korea. Akhirnya bertepatan dengan tanggal 3 Oktober 2004, berdirilah sebuah musholla.

Dalam prosesnya, masjid Al-Amin dari 3 Oktober 2004 hingga sekarang berusia 9 tahun. Tentunya dari awal hingga hari ini sudah begitu banyak dinamika dan problematika yang dilalui pengurus awal dan generasi penerusnya masjid Al-Amin.

Meski masih menyewa dan tinggal di lingkungan yang mayoritas berbeda aqidah (non muslim). Hingga hampir ditutup karena issue terorisme dan minimnya anggaran biaya musholla. Ketika itu dengan sigap, para pengurus pendahulu Masjid Al-Amin (yang saat itu masih bernama musholla) mengadakan iuran wajib bagi pengurus agar jangan sampai musholla Al-Amin ditutup. Bahkan banyak pengurus dan jama”ah yang menangis ketika mendengar musholla akan ditutup.

Mencermati proses panjang keberadaan Masjid Al-Amin dengan segala perjuangan yang berliku dan penuh pengorbanan, waktu, materi, tenaga, dan segalanya. pencapaian kegiatan itu berbuah manis dan tidak terduga oleh para pegurus terdahulu. Mulai dari diadakannya diklat-diklat yang diajar langsung oleh mahasiswa S2, S3 Indonesia yang menempuh pendidikan di Korea, guna meningkatkan daya saing para jamaah dan pengurus masjid setelah pulang ke tanah air, berupa diklat wirausaha yang berkesinambungan pada tahun 2008, diklat komputer oleh mahasiswa dari ITB.

Masjid Al-Amin juga sudah berkali-kali menjadi tuan rumah pembuatan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) yang dipimpin langsung oleh duta besar RI di Korea Selatan. Menjadi tempat pemilu legislatif (DPR) dan pemilu presiden 2009. Selain itu masjid Al AMin juga tempat berbagai kegiatan, seperti : penggalangan dana untuk Indonesia, warga negara Indonesia di Korea dan luar negeri lainnya yang terkena musibah bencana alam korban sosial politik, menjadi tempat berbagai macam informasi dan konsultasi ketenagakerjaan, dan yang paling banyak adalah tempat untuk diselenggarakan ratusan pernikahan putra-putri Indonesia secarah sah dan diakui Pemerintah Indonesia, bahkan pernikahan antar bangsa mulai dari asia, eropa, hingga benua Amerika (Peru) pun pernah diadakan di Masjid Al-Amin.

Disamping kegiatan di atas, pada masa kepengurusan 2009-2010 Masjid Al-Amin telah menjalin kerjasama-kerjasama baru disamping kerjasama yang sudah terjalin sebelumnya. Kerjasama tersebut seperti kerjasama dengan Pemda Dalseo, KEB, Daegu Bank, Kantor pos Daegu, Kepolisian Seongso, Imigrasi Daegu, juga kerjasama dengan beberapa lembaga Nasional Indonesia lainya seperti PKPU, BSM. Masjid Al-Amin juga dilengkapi dengan bidang dana dan usaha yang bergerak di bidang jual beli buku Islam nan Nasional lainya. Hal itulah yang membuat Masjid Al-Amin berbeda dengan masjid-masjid lain yang berada di Korea.

Semoga dengan kerja sama tersebut akan bisa memberikan manfaat yang besar bagi kedua pihak baik Masjid Al-Amin maupun lembaga-lembaga tersebut. Contoh kerjasama dengan Kepolisian Seongso seperti patroli lalulintas bersama dengan pengurus Masjid Al-Amin mempermudahkan umat Islam untuk meminta surat izin mengadakan kegiatan ke agamaan seperti merayakan hari-hari besar Islam. Kerjasama dengan PKPU, Masjid Al-Amin juga telah beberapa kali memberikan bantuan berupa dana kemanusiaan, bencana alam dan penyaluran zakat.

Dan tak kalah penting lagi ada proses perjuangan di Masjid Al-Amin yang bisa dibanggakan dan patut didukung dengan dilaksanakannya pengalangan dana pembangunan Masjid Agung Daegu yang kini sedang berlanjut dan penuh semangat yang dilaksanakan oleh FKMID.

“Dakwah ibarat sungai yang mengalir, dan tidak boleh berhenti sedikitpun. Seandainya ia berhenti, berarti ia sedang mengumpulkan strategi untuk melanjutkan perjalanan dengan napas panjang dan kekuatan baru yang lebih besar. Kadang ia harus berpisah untuk mencari celah yang dapat ia lalui, kadang ia harus berkumpul untuk melangkahi batu besar yang ada di depannya. Begitulah dakwah, trima kasih”

Editor : Bangun IRH

About bangunirh

i am a lecturer aprentice...and a junior architect... NOW I AM A STUDENT (again)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 18, 2013 by in Serba Serbi, Sosial Budaya.
%d bloggers like this: